Sunday, July 26, 2009

Siasat Baru Teror Bom

Peristiwa Penting,Bom MarriotPeristiwa Penting,Lagihot - DIA masuk ke Hotel JW Marriott, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, tanpa rikuh. "Mendatangi lokasi pemeriksaan, dengan muka tenang dan tampak biasa saja, tidak terlihat gugup," kata Alan Orlob, Vice President of Corporate Security Marriott International.

Pada 15 Juli 2009 itu, dia memesan kamar standar 1808, US$140 semalam. "Tunai." Dia menyerahkan tanda pengenal yang tertera nama Nur Hasbi.

Dua hari kemudian, saat jam sarapan pagi di Hotel Ritz Carlton yang hanya sepelemparan batu dari Marriott, Orlob bertemu tamu pria menarik perhatiannya. Kepada resepsionis si pria mengatakan telah memesan kamar. "Dia menyebutkan nomor 2701," kata Orlob seperti dikutip The Malaysian Insider, Jumat 24 Juli 2009. Artinya itu berada di lantai 27. Padahal Ritz Carlton cuma 26 tingkat.

Resepsionis lalu mencoba mencocokan nomor kamarnya ke komputer hotel. Orlob melihat pria itu menggoyangkan kakinya. Dia tampak berpikir. "Dia lalu mengatakan, tidak.. tidak. Saya akan menemui teman saya, dan sarapan di sini. Kami akan membayar tunai," kata Orlob, menirukan ucapannya. Dia pun menuju restoran.

Tak berapa lama, terdengar ledakan keras berasal dari Pub Tentakel, lobi Hotel JW Marriott, pukul 07.47. Berselang sepuluh menit, ledakan menggelegar di Restoran Airlangga, Hotel Ritz-Carlton. Penghuni di dua hotel panik bukan kepalang. Warga Selandia Baru, Matthew Webster, yang menginap di Hotel Marriott, mengatakan, saat ledakan dia berada di lobi hotel.

Dia mendengar ledakan keras. Puing-puing dan kaca-kaca berjatuhan dari langit-langit, dan tembok. "Ada asap biru datang dari sebelah kiri lobi dan juga dari hotel," katanya kepada wartawan dari Australia, Jumat 17 Juli 2009. Webster tersadar. Dia melihat seorang pria berjalan sempoyongan menuju ke jalan. Dia mengaku tak tahu nasib pria itu, sudah meninggal atau masih hidup.

Di Hotel Ritz Carlton kondisinya tak jauh beda. Pegawai bagian dapur Hotel Ritz Carlton, Tom Warden, mengatakan ledakan terjadi saat para staf dapur mempersiapkan sarapan. "Tiba-tiba orang-orang di lift berkata panik, harus segera keluar dari sini," kata Warden.

Ketika dia membuka pintu, lobi hotel penuh asap. Pekerja di Ritz Carlton dan tamu-tamu hotel berlarian ke jalan depan hotel. Mereka berhamburan keluar. Belakangan diketahui sembilan tewas, 55 luka. Salah seorang korban tewas dalam insiden bom ini adalah Presiden Direktur PT Holcim Indonesia Tbk, Timothy Mackay.



Bom Marriot


***

Ini peristiwa kedua bagi Marriot menjadi sasaran teroris. Pada 5 Agustus 2003, pukul 12.45, satu mobil yang dibawa oleh Asmar Latin Sani meledak di halaman hotel itu. Asmar meledakkan dirinya, dan menamatkan 12 nyawa, dan mencederai 150 orang. Polisi mencatat sembilan orang berperan penting dalam aksi ini.

Di antaranya adalah Noordin M. Top dan Azhari Husin. Keduanya warga Malaysia yang tergabung di pesantren Luqmanul Hakiem, Johor Bahru, Malaysia. Noordin dan Azhari dikenal pentolan Jamaah Islamiah (al-Qaidah) untuk wilayah Asia. Tujuh pengikutnya adalah warga Indonesia, jebolan Pesantren Ngruki, Jawa Tengah, termasuk Asmar Latin Sani.

Selain Asmar yang tewas akibat menjadi aktor bom bunuh diri itu, enam tersangka sudah dihukum. Sedangkan Noordin yang diduga otak kasus ini masih buron. Adapun Azhari, tewas dalam baku tembak dengan polisi di Batu, Malang, November 2006.

Itu sebabnya, nama Noordin kembali muncul dalam kasus pengeboman kedua di Hotel Marriot. Ledakan di Ritz Carlton juga diduga berada dalam satu rangkaian aksi laknat itu. "Saya yakin, kasus ini ada kaitannya dengan Noordin," kata Brigjen (Purn) Suryadarma Salim, mantan Komandan Detasemen Khusus 88 Polri. "Selama Noordin masih berkeliaran, kasus-kasus seperti itu akan terus terjadi."

Hingga Sabtu 25 Juli 2009, Kepolisian RI dan tim Detasemen Khusus 88, telah delapan hari menyelidiki kasus ini. Berbagai barang bukti telah diangkut dari lokasi kejadian.

Penyidik menemukan lima kilogram bom tersimpan dalam tas laptop di kamar 1808, berikut pemicunya yang terbungkus dalam kotak plastik tupperware. "Ditinggal dalam keadaan aktif dan kemudian seharusnya meledak lebih duluan," kata Kepala Bidang Penerangan Umum Mabes Polri, Komisaris Besar Polisi Ketut Untung Yoga.

Polisi memperkirakan ada 20 kilogram bahan peledak yang meletup di Marriot, sedangkan di Ritz Carlton seberat 10 kilogram. Bahan bom yang digunakan di sini berdaya ledak rendah. Bahan bom itu campurannya dikenal sebagai Black Powder. Bahan ini mudah meledak, dan merupakan campuran sulfur, arang, potassium nitrat, KNO3 atau jenis mineral. Kemudian dicampur mur dan baut. Unsur kimia seperti itu pula yang ditemukan di kamar 1808.

Jenis ini mirip dengan bom yang disita polisi saat menggerebek Azhari di Batu, Malang, Jawa Timur. Setahun kemudian polisi menyita bom sejenis di Yogyakarta. Begitu juga 22 bom berbahan mirip dengan temuan di Marriott dan Ritz Carlton, disita polisi Simpang Dwikora, Palembang, setahun lalu. Beberapa tersangka dalam kasus ini menunjuk Noordin sebagai pemilik bom ini.

Karena itu pula, Suryadarma yakin, pelakunya berasal dari kelompok teroris yang beraksi di sejumlah tempat selama ini. "Bom itu adalah Azhari punya barang," katanya. Sebelum tewas ditembak Azhari telah mengajarkan cara merakit bom kepada sejumlah pengikutnya. Empat tersangka peracik bom -- murid Azhari-- sudah pernah ditangkap polisi.

Sejumlah muridnya diperkirakan masih berkeliaran dan menjadi pengikut Noordin. Diduga merekalah meracik bom untuk kelompok ini. Selain itu, yang menguatkan keyakinannya, adalah gaya peledakan ini. "Sangat khas Noordin dan Azhari," kata Surya.

Di antaranya, menggunakan pelaku yang bersedia bunuh diri dengan bom. Gaya seperti ini terjadi pada hampir semua peristiwa pengeboman di Indonesia. Mulai dari Bom Bali I, Bom Bali II, Bom Marriott I, dan peledakan di Kedutaan Besar Australia.

Tapi metode aksi di Marriott dan Ritz Carlton tampak telah berubah. Bila pada semua aksi bom bunuh diri sebelumnya si pelaku datang dari luar dan masuk ke lokasi, lalu meledakkan dirinya, nah sekarang si istimata (tokoh yang bunuh diri dengan bom) justru menginap di hotel selama dua hari. Dia membaca situasi baru beraksi. "Gaya ini memang baru diterapkan di sini," kata Surya. "Tapi jangan lupa, dalam aksi di Mumbai, India, cara seperti ini sudah pernah dilakukan."

Pada 26-28 November 2008, sepuluh teroris menciptakan kepanikan tiada tara di Mumbai. Jumlah korban tewas dalam orkes serangan teroris di Mumbai mencapai lebih dari 120 orang. Aksi mereka juga dilakukan dengan cara menginap di hotel di Mumbai, kemudian memasukkan senjata serta bahan peledak. Lalu mereka meneror seantero Mumbai dengan target 5.000 orang harus tewas. Teroris ini diklaim sebagai bagian dari kegiatan Al-Qaidah.

Bom Marriot

***

Bukti lain yang dimiliki polisi adalah dua batok kepala yang diduga sebagai pelaku bom bunuh diri. Mabes Polri sudah mengumumkan ciri-ciri pelaku bom bunuh diri itu, Kamis 16 Juli 2009. Pelaku terdeteksi di JW Marriott masih berusia 16 tahun, berkulit putih, rambut lurus.

Tingginya 180 centimeter. Ukuran sepatu sekitar 43. Perkiraan polisi itu berdasarkan hasil uji DNA di laboratorium. Di Ritz Carlton, kata Kepala Disaster Victim Identification (DVI), Eddy Suprawoto, dilakukan seorang pria berusia sekitar 40 tahun, kulit sawo matang, rambut lurus, pendek, dan hitam. Tinggi badan 165 centimeter.

Juru Bicara Markas Besar Polri, Inspektur Jenderal Nanan Soekarna, mengatakan polisi belum bisa memastikan identitas dua pelaku. Polri belum mengantongi data-data pelaku."Kami sudah melakukan pemeriksaan secara seksama kepada keluarga-keluarga yang merasa kehilangan keluarganya dalam peristiwa ini. Tapi hingga saat ini tidak ada yang cocok (DNA-nya)," katanya.

Polisi telah mendatangkan keluarga dari pelaku yang diduga meledakkan Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton untuk menjalani tes DNA bagi dua jenazah yang belum teridentifikasi. Di antaranya adalah keluarga Nur Hasbi, sesuai tanda pengenal ketika dia masuk hotel. Namun tak cocok. "Naluri saya berkata bukan anak saya pelakunya," kata Siti Lestari, mertua Nur Said alias Nur Hasbi, di Klaten, Jawa Tengah.

Tampaknya polisi harus bekerja keras memecahkan kasus ini secara detail. Salah satunya harus terjawab bagaimana bahan peledak itu bisa dimasukkan ke dalam hotel. Padahal Marriott dan Ritz terkenal sebagai hotel berbintang lima yang sangat ketat pengamanannya. "Bom itu diracik di luar hotel. Untuk memasukkannya, saya yakin ada kerjasama dengan orang dalam hotel," kata Suryadarma.

Surya menampik kemungkinan bom itu diracik di dalam hotel. Alasannya, dalam organisasi seperti JI itu, strukturnya sangat ketat. Peracik bom tidak pernah menjalankan peran sebagai pelaku bom bunuh diri, begitu juga sebaliknya.

Menjawab kecurigaan ini, penyidik sebenarnya juga sudah memeriksa semua pegawai di kedua hotel itu. Sejauh ini hanya ada satu kecurigaan, yaitu tentang seseorang bernama Ibrahim, seorang florist (ahli bunga) yang bekerja di perusahaan rekanan Ritz Carlton. DNA keluarganya juga sudah diambil untuk dicocokkan dengan dua batok kepala pengebom dan korban yang tewas. Namun tak ada kesamaan. "Dia kemana? Itu yang akan kami cari. Dia (jasadnya) tidak ada yang di TKP (Tempat Kejadian Perkara)," kata Nanan Soekarna.

Wartawan VIVAnews mendatangi kediaman Ibrahim di Cililitan Kecil, Jakarta Timur. Di dalam kediaman Ibrahim ada gambar dua gedung berlantai sepuluh yang sedang dibom. Di tembok kamar lantai dua juga terlihat tulisan-tulisan arab berukuran panjang sekitar lima meter. Ada pula
stiker bertuliskan, "Be A Good Moslem Or Die As Syuhada." Ada pula tulisan pesan jihad dalam bahasa Arab sepanjang sekitar lima meter.

Bom Marriot

***

Tiga hari sebelum peledakan, sebenarnya Densus 88 sudah menggerebek sebuah rumah di Cilacap, Jawa Tengah. Di rumah milik Bahrudin Latief alias Baridin ini polisi menemukan alat-alat elektronik, kabel-kabel, lengkap dengan petunjuk rangkaian yang diduga alat membuat bom rakitan di kebun belakang Baridin. Polisi tak menerangkan apakah telah menangkap Baridin atau belum.

Menurut polisi, Baridin adalah mertua Noordin M Top. Anaknya, Arini Rohma, 24 tahun, telah menikah dengan Noordin. Perkawinan itu menghasilkan dua anak. Arini dan dua anaknya kini telah dibawa polisi. Polisi juga telah membawa Anggreini Astuti, 45 tahun, istri Baridin.

"Polisi salah menilai Arina Rahma terlibat jaringan Noordin M Top, apalagi dianggap menyembunyikan Noordin M Top," kata Kholid Syaifullah, Presiden Eksekutif Front Perlawanan Penculikan.

Meskipun jejak pengebom itu masih kabur, polisi terus melakukan pengembangan temuan mereka di lapangan. Setidaknya sejumlah bukti hasil olah TKP sangat berharga untuk mengungkap jejak pelaku dari aksi peledakan itu.

Dengan bekal pengungkapan aksi bom sebelumnya, kata bekas Komandan Detasemen Khusus 88, Brigjen Pol (Purn) Suryadharma Salim, dia hakkul yakin jejak aksi bom ini segera terbongkar. "Selama ini, tak ada aksi bom yang tak berhasil diungkapkan polisi," ujar Suryadharma. (vivanews)
* lagiHot (Berbagai Berita terkini,Peristiwa Penting, Gossip Artis Hot yang Perlu anda Tahu) Download 25 FREE songs at eMusic.com!

Digg,Peristiwa Penting Technorati,Peristiwa Penting del.icio.us,Peristiwa Penting Stumbleupon,Peristiwa Penting Facebook,Peristiwa Penting Yahoo,Peristiwa Penting Twitter,Peristiwa Penting

Mau Domain Gratis...? Buruan daftarkan nama anda sebagai domain anda sebelum diambil orang..!!! Domain Keren Gratis

Komentar :

ada 0 comments pada “Siasat Baru Teror Bom”

Post a Comment

 

Template by LagiHot